Oleh: Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.

Fenomena air laut yang tiba-tiba surut jauh dari garis pantai sering menimbulkan pertanyaan dan kegelisahan di tengah masyarakat. Apakah surutnya laut merupakan pertanda akan datangnya tsunami? Apakah ia hanya fenomena pasang-surut biasa? Ataukah perubahan tersebut merupakan bagian dari gejala alam yang lebih kompleks? Pertanyaan ini penting dijawab bukan hanya dengan kecemasan, tetapi dengan ilmu pengetahuan. Dalam perspektif Teologi Al-Infithar, fenomena alam juga dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa kehidupan manusia berada dalam suatu sistem ciptaan Allah yang teratur, dinamis, sekaligus memiliki batas-batas keseimbangan.

Laut Surut Tidak Selalu Berarti Tsunami

Secara oseanografis, naik-turunnya permukaan laut merupakan fenomena alamiah. Gravitasi Bulan dan Matahari terhadap Bumi menghasilkan siklus pasang dan surut yang dapat diprediksi. Kondisi angin, tekanan atmosfer, bentuk garis pantai, kedalaman perairan dan konfigurasi dasar laut juga dapat memengaruhi tinggi muka air di suatu kawasan.

Karena itu, air laut surut tidak dengan sendirinya berarti tsunami akan terjadi. Surut astronomis berlangsung relatif bertahap dan mempunyai pola periodik yang dapat dihitung. Situasinya berbeda apabila air laut surut secara mendadak, sangat cepat, jauh melebihi kondisi normal, dan terutama terjadi setelah gempa bumi kuat atau berlangsung cukup lama. Fenomena seperti ini harus diperlakukan sebagai peringatan alam terhadap kemungkinan tsunami.

Secara geologis, sebagian besar tsunami terjadi ketika gempa bawah laut menyebabkan deformasi vertikal dasar laut. Dasar laut yang terangkat atau turun secara tiba-tiba memindahkan massa air dalam jumlah sangat besar. Energi tersebut kemudian merambat sebagai gelombang panjang ke berbagai arah.

Gelombang tsunami mempunyai bagian puncak (crest) dan lembah (trough). Apabila bagian lembah mencapai pantai terlebih dahulu, muka laut dapat turun drastis sehingga air terlihat seperti ditarik ke tengah laut. Dasar pantai, terumbu karang, bahkan ikan yang sebelumnya berada di bawah permukaan air dapat terlihat.

Dalam keadaan demikian, masyarakat tidak seharusnya mendekati pantai untuk menyaksikan fenomena tersebut. Surut mendadak setelah gempa adalah alasan untuk segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu datangnya gelombang.

Namun terdapat hal lain yang perlu dipahami: tsunami tidak selalu didahului oleh air laut surut. Jika bagian puncak gelombang tiba terlebih dahulu, yang terlihat justru kenaikan muka air secara cepat. Dengan demikian, menjadikan surutnya laut sebagai satu-satunya indikator tsunami merupakan pemahaman yang tidak tepat.

Indonesia Hidup Bersama Dinamika Bumi

Pemahaman tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia. Secara geologis, Nusantara berada pada kawasan pertemuan beberapa sistem lempeng tektonik aktif. Zona subduksi terdapat di sepanjang Sumatra, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia bagian timur.

Energi yang tersimpan akibat interaksi antarlempeng dapat dilepaskan dalam bentuk gempa bumi. Jika gempa menyebabkan deformasi dasar laut dalam kondisi tertentu, tsunami dapat terbentuk. Pengalaman Aceh pada 26 Desember 2004 memperlihatkan dahsyatnya mekanisme tersebut. Demikian pula tsunami Palu 2018 dan tsunami Selat Sunda 2018 memberikan pelajaran bahwa tsunami tidak selalu memiliki mekanisme yang sama. Gempa tektonik, longsoran bawah laut maupun aktivitas vulkanik dapat berkontribusi terhadap perpindahan massa air yang destruktif.

Reflektif Teologi Al-Infithar

Di sinilah ilmu pengetahuan dapat berdialog dengan kesadaran keagamaan. Al-Qur’an menggambarkan perubahan kosmik secara sangat kuat dalam Surah Al-Infithar. Surah tersebut dibuka dengan gambaran:

Apabila langit terbelah, apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap….”  (QS. Al-Infithar [82]: 1–3).

Ayat tersebut tentu bukan buku teks oseanografi ataupun geologi. Al-Qur’an tidak sedang memberikan persamaan matematis mengenai gelombang tsunami, pergerakan lempeng, atau perubahan muka laut. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak memaksakan setiap fenomena alam sebagai pembuktian langsung terhadap suatu ayat.

Akan tetapi, Al-Qur’an memberikan sesuatu yang lebih mendasar: kesadaran kosmologis. Langit, bumi, laut dan seluruh sistem alam bukan realitas yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari ciptaan Allah yang tunduk kepada hukum dan ketetapan-Nya. Manusia hidup di dalam sistem tersebut, bukan di luarnya.

Dari sinilah saya menyebutnya sebagai Teologi Al-Infithar: suatu cara pandang keagamaan yang menjadikan perubahan dan keguncangan alam sebagai momentum untuk menyadari kembali keterbatasan manusia, keteraturan ciptaan, tanggung jawab ekologis, serta hubungan antara ilmu, iman dan keselamatan kehidupan.

Alam Tidak Cukup Hanya “Dibaca”, tetapi Harus Dipahami

Ketika laut surut secara tidak biasa, seorang saintis akan bertanya: bagaimana pola pasang-surutnya? Bagaimana tekanan atmosfer dan kondisi anginnya? Apakah sebelumnya terjadi gempa? Di manakah episentrumnya? Berapa magnitudonya? Bagaimana mekanisme sumbernya? Apakah terjadi deformasi dasar laut?

Seorang geolog akan membaca struktur batuan, patahan, zona subduksi dan pergerakan lempeng. Seorang ahli oseanografi akan membaca perubahan muka laut, gelombang dan arus. Sementara orang beriman dapat melangkah lebih jauh dengan bertanya: apa yang harus dilakukan manusia setelah memahami semua tanda tersebut? Di sinilah sains dan agama tidak perlu dipertentangkan. Sains menjelaskan bagaimana proses alam terjadi. Teologi memberikan orientasi mengenai bagaimana manusia seharusnya bersikap terhadap realitas tersebut.

Karena itu, menjelaskan tsunami hanya sebagai “kemarahan alam” atau “azab” tanpa memahami proses geologinya dapat menghasilkan fatalisme. Sebaliknya, memahami mekanisme alam tetapi mengabaikan tanggung jawab manusia terhadap keselamatan sesama juga merupakan bentuk reduksi.

Teologi Al-Infithar aktif bukan pasif.

Kesalehan menghadapi bencana tidak cukup hanya diwujudkan dalam doa setelah bencana terjadi. Kesalehan juga harus hadir sebelum bencana, dalam bentuk pengetahuan, kesiapsiagaan dan mitigasi. Membangun sistem peringatan dini adalah ikhtiar. Mempelajari peta rawan tsunami adalah ikhtiar. Menyiapkan jalur dan tempat evakuasi adalah ikhtiar. Melakukan simulasi bencana adalah ikhtiar. Mengajarkan anak-anak mengenali tanda alam adalah ikhtiar. Menjaga mangrove dan ekosistem pesisir juga merupakan ikhtiar ekologis. Masjid, pesantren, sekolah, kampus dan organisasi keagamaan karena itu dapat mengambil peran penting. Masjid di kawasan pesisir, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi dapat menjadi pusat literasi kebencanaan masyarakat: menyediakan informasi jalur evakuasi, edukasi tsunami, komunikasi darurat dan penguatan solidaritas sosial.

Dengan perspektif demikian, iman tidak menggantikan ilmu, dan ilmu tidak menghilangkan iman. Keduanya bertemu dalam tanggung jawab menjaga kehidupan. Ada pesan yang sangat penting bagi masyarakat pesisir. Apabila merasakan gempa yang kuat atau berlangsung lama dan kemudian melihat air laut surut secara tidak biasa, jangan mendekati pantai untuk melihat fenomena tersebut. Jangan mengambil ikan yang terdampar. Jangan sibuk membuat dokumentasi. Jangan pula menunggu sampai terlihat gelombang besar di cakrawala.

Teologi Al-Infithar: Dari Kesadaran menuju Tindakan

Surah Al-Infithar mengingatkan manusia bahwa struktur kehidupan yang tampak kokoh bukan sesuatu yang absolut. Langit dapat berubah, bintang dapat berhamburan dan laut dapat mengalami pergolakan. Gambaran tersebut menumbuhkan kesadaran mengenai betapa terbatasnya manusia di hadapan kebesaran sistem alam ciptaan Allah.

Namun kesadaran itu seharusnya tidak menghasilkan ketakutan pasif. Ia harus melahirkan tanggung jawab. Jika ilmu geologi memberi tahu kita di mana zona subduksi berada, maka informasi tersebut harus diterjemahkan menjadi mitigasi. Jika oseanografi dapat mendeteksi perubahan muka laut, teknologi tersebut harus digunakan untuk menyelamatkan manusia. Jika ilmu lingkungan menjelaskan bahwa kerusakan ekosistem meningkatkan kerentanan masyarakat, maka menjaga lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab moral.

Inilah salah satu pesan penting Teologi Al-Infithar: membaca perubahan alam bukan untuk membangun ketakutan apokaliptik, tetapi untuk melahirkan kesadaran ekologis, kesiapsiagaan, kerendahan hati dan tanggung jawab kemanusiaan.

Wallahu ‘Alam bish Shawab. Nashrun Minallah wa Fathun Qarib

Leave a Comment